Selasa, 25 Agustus 2009

Guru, Dosen dan Pendeta Sangat Berpotensi Menerbitkan Buku



Guru, Dosen dan Pendeta

Sangat Berpotensi Menerbitkan Buku

*Sutanto Leo


Banyak guru, dosen dan pendeta ingin menulis buku tetapi tidak memulainya. Sebagian dari mereka sudah mulai menulis namun jarang menyelesaikannya. Beberapa orang telah selesai menulis, sayangnya naskah mereka tidak pernah dikirim ke penerbit.

Sikap tersebut di atas berdampak pada sedikitnya jumlah buku yang terbit di Indonesia. Hanya 10.000 judul buku baru terbit setiap tahun menurut penerbit Andioffset, 2007. Ini sangat memprihatinkan bila dibandingkan dengan jumlah buku yang ditebitkan oleh negara-negara lain.

Pakar pendidikan menyatakan, sedikitnya jumlah buku yang terbit disebabkan oleh minat baca masyarakat yang masih rendah. Hal ini bisa dimengerti apalagi mahasiswa paska sarjana yang konon banyak membacapun, tidak juga menghasilkan buku, menurut Alwasilah, Guru besar UPI.

Selain itu, juga karena palajaran menulis di sekolah hanya menekankan pada faktor-faktor penunjang menulis seperti tata bahasa, penggunaan tanda baca, gaya bahasa, kosa kata, dsb. Hal ini diperparah oleh sikap pengajar yang jarang memeriksa dan mengembalikan tulisan siswa

Mengapa guru, dosen dan pendeta sangat berpotensi menulis dan menertbitkan buku? Tugas utama mereka adalah membaca sebelum melakukan pekerjaan. Bahan yang dibaca adalah acuan yang menjadi pokok bahasan pelajaran atau khotbah yang akan disampaikan kepada (maha)siswa atau jemaat.

Susunan dan cara penyajian dikembangkan sendiri dengan asumsi akan mudah dipahami oleh (maha)siswa atau jemaat. Ini berarti mereka mempunyai gagasan dan penyampain yang berbeda dengan penulis lain.

Penerbit adalah profit oriented. Jadi, bila seorang penulis mempunyai pangsa pasar yang prospektif, naskahnya harus terbit. Jumlah (maha)siswa dan jemaat yang diajar dan dikhotbahi merupakan pangsa pasar incaran penerbit.

Untuk memperluas pasar, penulis perlu Act locally, think globally.’ Artinya penulis harus memenuhi kebutuhan lokal (maha)siswanya atau jemaatnya sendiri tetapi juga memikirkan kebutuhan mahasiswa lembaga yang lain atau jemaat dari gereja atau denominasi yang berbeda. Dengan demikian buku tersebut sudah mempunyai pangsa pasar global.

Selain itu, yang tahu kebutuhan (maha)siswa atau jemaat adalah guru, dosen atau pendeta mereka. Mereka perlu informasi penjelasan bahan pelajaran atau khotbah, contoh-contoh kasus dan solusi yang ada disekitar mereka.

Buku-buku impor atau buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dari segi muatan lokal (contoh kasus & penyelesaianya) dan budayanya pasti tidak sesuai. Inilah alasan yang paling penting untuk menulis buku.

Menulis buku tidak cukup dengan niat tetapi harus dibarengi dengan tindakan yang terpola dan menjadikan tindakan itu sebagai sebuah kebiasaan. Menulis tidak berarti kita harus punya waktu tersendiri tanpa harus melakukan kegiatan lain.

Prinsip seorang penulis adalah ‘A writer writes while others do nothing’. Ini berarti bahwa beban kerja seorang penulis sama dengan beban kerja bukan penulis tetapi penulis masih bisa menyediakan waktu untuk menulis.

Pada dasarnya bila guru, dosen mengajar dengan baik, ia minimal mempunyai outline satu materi pelajaran yang diajarkan dalam setiap pertemuan, demikian juga bila pendeta itu khotbah, ia juga mempunyai outline materi khotbah.

Outline tersebut biasanya merupakan poin-poin utama yang disampaikan dalam mengajar atau khotbah. Sering kali poin-poin itu dilengkapi dengan kutipan dari berbagai sumber, atau merupakan rancangan sendiri setelah membaca berbagai referensi.

Gagasan dalam outline ini bisa dikembangkan menjadi bab buku yang layak untuk dibaca dan ditularkan kepada (maha)siswa atau jemaat. Bab buku pada umumnya terdiri dari bagian pembuka, bagian utama dan bagian penutup serta dilengkapi dengan illustrasi untuk mendekorasi bab tersebut.

Isi bagian pembuka yaitu informasi latar belakang yang menjelaskan masalah judul bab. Secara kongkrit merupakan jawaban dari pertanyaan: apa, siapa, di mana, mengapa dan bagaimana masalah tersebut ada. Pokok-pokok bahasannya dalam bab tersebut biasanya juga disebutkan..

Bagian utama bab memberikan uraian penjelasan pokok-pokok bahasan yang disebutkan. Contoh-contoh masalah yang ada disekitar kita (local content) dan solusi permasalahannya dibahas. Semakin representatif contoh yang diberikan, semakin menolong pembaca untuk menyelesaikan masalah serupa bila menghadapinya.

Bagian penutup sebuah bab dapat merupakan kesimpulan, pernyataan ulang atau ringkasan ditambah komentar penulis untuk disikapi oleh pembaca. Untuk buku pelajaran, sering kali diakhiri dengan soal-soal latihan sesuai dengan tujuan pembelajaran bab tersebut.

Bila bab demi bab ditulis untuk memenuhi kebutuhan (maha)siswa atau jemaat dalam satu judul kebutuhan tertentu maka bab-bab itu sudah bisa dipikirkan judul bukunya. Untuk pendeta, judul-judul khotbah dapat dikelompokkan sesuai dengan judul buku yang akan ditulis.

Kemudian bab-bab itu disusun dan dilengkapi dengan daftar isi buku, kata pengantar, pendahuluan, dan referensi. Bila perlu bandingkan daftar isi tersebut dengan buku-buku sejenis yang sudah terbit.

Penulis harus mengusahakan daftar isi tersebut lebih lengkap dari buku-buku yang sudah terbit. Dengan demikian penerbit tahu bahwa naskah yang kita tulis sedikit lebih baik dari pada yang lain.

Buku merupakan aktualisasi ilmu pengetahuan yang ditularkan kepada (maha)siswa atau jemaat. Karya tulis ini mendapat penghargaan yang tinggi dari mahasiswa, jemaat dan juga memberikan kontribusi pada lembaga tempat kita bekerja serta kepada masyarakat nasional atau bahkan internasional.

Masyarakat bisa mengenal otoritas seorang penulis karena ilmunya yang ditularkan melalui buku. Otoritas ini belum diakui masyarakat bila hanya untuk (maha)siswanya atau jemaatnya saja. Penulis yang berhasil, otoritasnya bisa berkembang sampai menjadi referensi masyarakat. Hal ini terbukti bila penulis tersebut sering diundang untuk mempresentasikan apa yang ditulisnya.

Royalty bukan merupakan tujuan utama bagi seorang penulis buku. Dengan menyebarnya gagasan penulis ke masyarakat luas dan mendapatkan apresiasi dari mereka memberikan kepuasan tersendiri baginya. Bila royalty yang dikejar, penulis bisa kecewa berat karena tidak sebanding dengan tenaga dan pikiran yang dipakai untuk menulis buku

Pelanggaran menulis di negeri kita sudah terlalu tinggi. Dinyatakan bahwa 85% karya akademis kita mengandung kejahatan akademis karena penulis tidak mencantumkan sumber gagasan atau bahkan sampai dengan menerbitkan hasil curian gagasan orang lain.

Kejahatan ini sulit dituntut karena penulis yang menerbitkan mendapatkan hak cipta secara resmi bukan orang yang dicuri gagasannya. Hal ini terdengar aneh di negara yang katannya berlandasan hukum. Namun itulah yang terjadi.

Kejahatan pelecehan intelektual dari dunia pendidikan turut menyumbang rusaknya moral bangsa kita. Tidak tahu malu, serakah, menipu, korupsi setiap ada kesempatan sudah membudaya dan melembaga. Kapan kejahatan seperti ini bisa berkurang kualitas dan kuantitasnya bila dunia pendidikan tidak memulainya.

Untuk menghindari kejahatan di atas, sebagai penulis kita harus jujur dan bertanggung jawab atas setiap gagasan yang kita tulis. Gagasan orang lain untuk mendukung gagasan penulis boleh dipinjam namun kita harus mengikuti etika yang berlaku.

Selain itu, bila penulis sudah mempunyai naskah yang sudah lengkap tidak perlu menunda untuk mengirimkannya ke penerbit. Bahkan sebenarnya bila sudah menyelesaikan dua bab saja, penulis dapat mengirim proposal untuk dipertimbangkan penerbit.

Naskah yang marketable, pasti akan diterbitkan. Bila terbit, otomatis hak cipta penulis dilindungi oleh undang-undang. Dengan demikian, mudah-mudahan orang mau menghormati dan enggan melanggar undang-undang hak cipta tersebut.

Bila ditolak, penulis tidak perlu putus asa. Kita bisa menanyakan kelemahan naskah kepada penerbit. Mungkin penerbit teresebut sudah mempunyai buku sejenis atau belum jelas pangsa pasarnya. Upaya selanjutnya, penulis mencoba mengirim ke penerbit yang lain.

Potensi menulis buku merupakan berkat karunia dari Tuhan. Karunia ini hanya diberikan kepada orang yang layak menerimanya. Saudara jangan membiarkan karunia ini diambil kembali sebelum disumbangkan kepada masyarakat dan diwariskan kepada generasi mendatang. Selamat mencoba.

* Penulis adalah pelatih menulis dan konsultan penerbitan buku, dosen STP Bandung